Kamis, 04 Agustus 2011

NABI PUN PERNAH LUPA


Tadi malam saya mengikuti sholat teraweh di salah satu masjid yang cukup besar dan terkenal di seputaran Jakarta Pusat. Ternyata masjid ini baru saja merubah kebiasaannya. Biasanya teraweh 11 rokaat dengan witir, dengan bergabungnya imam baru dari tanah makkah, sekarang teman-teman menambah jumlah roakaatnya menjadi 21 rokaat. Suatu peningkatan yang mudah-mudahan mendatangkan ke maslahatan. Amin
Hal yang cukup menarik terjadi tadi malam. Pada saat melakukan sholat tarawih salam ke 7, sang imam melakukan kesalahan. Yang seharungnya beliau berdiri setelah sujud, ternyata beliau duduk untuk melakukan tahiyat akhir. Alhamdulillah beliau mendengar peringatan dari makmum, sehingga beliau berdiri untuk melanjutkan rakaat yang berikutnya. Setelah tahiyat akhir, sebelum salam, beliau melakukan sujud dua kali baru kemudian salam.
Setelah salam, kontan Jemaah ramai membicarakan kesalahan tersebut. Salah satu yang saya dengar : ”wah kok imam dari masjidil haram bisa salah yah?”. Masih banyak dengungan pembicaraan ibu-ibu yang cukup seru membicarakan kejadian ini. Dengungan tiada henti sampai akhirnya kami harus berdiri untuk melanjutkan sholat.

Hemmm saya jadi berpikir. Kenapa kesalahan yang lumrah ini begitu ramai dibicarakan yah? Bukankah itu adalah suatu hal yang lumrah terjadi? Namanya juga manusia, pasti bisa melakukan kesalahan dong. Wong rasul saja pernah salah… (makanya ada tata cara sujud sahwi kan? Hehehe)….
Saya menemukan beberapa dalil yang menunjukan bahwa bahkan rasulpun pernah khilah akan saya coba tampilkan disini. Bukan bermaksud menurunkan kemuliaan Rasulullah SAW, namun sekedar untuk mengingatkan untuk tidak meremehkan seseorang hanya karna pernah melakukan kesalahan. Berikut beberapa hadis yang menggambarkan bahkan seorang Rasulpun pernah lupa tersebut :
Hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu‘anhu yang berkata:
“Nabi Muhammad SAW shalat Zhuhur lima rakaat, maka seseorang bertanya, “Apakah ada penambahan dalam shalat?” Beliau berkata, “Kenapa begitu?” Teman-teman berkata, “Engkau shalat lima (raka’at)”. Maka beliau sujud dua kali setelah salam.”
Dalam satu riwayat
“…maka beliau melipat kedua kakinya dan menghadap Kiblat, lalu melakukan dua sujud, kemudian salam.” (HR Jama’ah)

Hadist lain dari Abu Hurairah :
“Bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat Dzhuhur atau Ashar bersama teman-teman dan melakukan salam setelah dua raka’at. Kemudian beliau memisahkan diri dengan cepat ke salah satu pintu masjid, dan orang-orang berkata bahwa shalat telah diqashar. Sementara itu Nabi Muhammad SAW berdiri disamping sebatang kayu yang ada di dalam masjid, berandar padanya seolah beliau sedang marah. Maka salah seorang berdiri dan berkata,
“Ya Rasulullah, apakah engkau lupa atau shalat telah diqashar?” Nabi berkata: “Aku tidak lupa dan shalat tidak diqashar” Maka laki-laki tersebut berkata, “Tidakkah engkau telah lupa?” Nabi berkata kepada para sahabat: “Apakah ia berkata benar?” Teman-teman menjawab: “Ya.” Maka Nabi kembali dan melakukan shalat yang tersisa dan kemudian salam, lalu beliau sujud dua kali, kemudian melakukan salam.”(
Mutafaq alaihi).
Dalil yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya dari Abdullah bin Buhainah
“Bahwasannya Nabi memimpin teman-teman dalam shalat Dzhuhur. Beliau langsung berdiri setelah dua raka’at pertama dan tidak duduk (untuk tasyahud awal), para jama’ah pun berdiri mengikutinya. Kemudian ketika hampir menyempurnakan shalat dan orang-orang menunggu salam beliau, beliau bertakbir dalam keadaan duduk dan melakukan dua sujud dua kali sebelum salam, kemudian beliau salam.”

Kalau sudah baca dalil-dalil di atas, semoga sedikit tercerahkan ya. Jadi kenapa hal kecil harus jadi besar? Nabi aja bisa khilaf, kenapa Imam ga boleh? :)
Eh baca blog nya jangan Cuma yang ini aja yah. Baca juga posting yang berikutnya. Semoga dapat pencerahan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar